Mengapa postingan ini saya beri judul energi khayalan? Ya,
kali ini saya ingin 'berkhayal' mengenai apa kira-kira energi pengganti yang
akan muncul di masa mendatang. Energi khayalan bukan berarti hanya sekadar
angan-angan, tapi bukankah sesuatu berawal dari mimpi? Mungkin saat ini ide
saya masih berupa angan belaka, tapi mudah-mudahan suatu saat, saya atau
mungkin orang lain dapat melahirkan ide-idenya dalam bentuk nyata.
Kita pasti sudah tau, betapa luar biasanya peningkatan konsumsi energi, khususnya energi bahan bakar minyak dari fosil. Selama 1950-an dan 1960-an bahan bakar ini, terutama minyak, adalah melimpah dan murah. Kelimpahan dan kemurahannya menjadi salah satu faktor utama terhadap laju pertumbuhan yang tidak pernah ada sebelumnya yang dicapai dalam ledakan ekonomi negara-negara industri.
Kita pasti sudah tau, betapa luar biasanya peningkatan konsumsi energi, khususnya energi bahan bakar minyak dari fosil. Selama 1950-an dan 1960-an bahan bakar ini, terutama minyak, adalah melimpah dan murah. Kelimpahan dan kemurahannya menjadi salah satu faktor utama terhadap laju pertumbuhan yang tidak pernah ada sebelumnya yang dicapai dalam ledakan ekonomi negara-negara industri.
![]() |
| Grafik perbandingan konsumsi energi (sumber: Mechanical Engineering Ismanto Alpha's) |
Sejak 1960-an konsumsi energi primer keseluruhan meningkat secara tetap, mencerminkan efek-efek gabungan dari pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Laju pertumbuhan sempat melambat dalam beberapa tahun pertama setelah goncangan harga minyak pada 1973 dan 1979, namun pola dasar tampak tak berubah. Tetapi sejak awal 1970-an mulai ada perbedaan-perbedaan besar di antara kawasan-kawasan. Kurva konsumsi energi di negara-negara industri yang termasuk OECD mulai datar, sementara di negara-negara berkembang meningkat secara mantap. Misalnya, antara 1974 dan 1989, konsumsi energi per kapita di negara-negara OECD hanya bertambah secara marginal sementara GDP per kapita bertambah sebesar 36%, yang berarti bahwa peningkatan dalam efisiensi pada penggunaan energi primer dicapai selama periode ini. Namun, penggunaan listrik yang diikuti oleh peningkatan GDP juga mengindikasikan bahwa peningkatan efisiensi dicapai melalui suatu penggeseran dari energi primer ke listrik dalam penggunaan akhir.
Mungkin energi tersebut akan selalu melimpah jika kita terus mengeruk perut bumi, tapi apakah kita tega melihat bumi yang sudah rela kita injak-injak semakin keropos? Mau tak mau kita harus menggunakan energi lain agar kita tak menghancurkan tempat tinggal kita sendiri.
| Berbagai macam energi alternatif (sumber: pantonashare.com) |
