Sepotong Cerita tentang Beijing

Satu setengah jam menuju tahun 2017
dan baru mulai nulis.
Dasar deadliner :)


Aloha!
Setelah tersadar kalo tahun 2016 ini baru buat dua tulisan, baru kerasa sekarang susahnya memulai satu kata untuk memancing kalimat-kalimat keluar. Baru sadar juga kalo tahun lalu juga deadliner bikin postingan di menit-menit terakhir tahun 2015. Duh, Na, kok udah satu tahun tetep aja ga berubah. Apa kabar resolusinya?

Oke, jadi di penghujung tahun ini, ga seperti postingan tahun lalu yang isinya throwback selama setahun udah ngapain aja, udah dapet apa aja, udah 'belajar' apa aja, aku mau menyimpan sedikit cerita tentang apa yang udah terjadi sampai di bulan terakhir tahun 2016 ini. Hmm, sedikit ambigu tentang kalimat apa-yang-udah-terjadi-sampai-di-bulan-terakhir-2016. Kalo dipikir lagi itu juga sama aja kayak mengingat yang udah lalu sih. Sebenernya tadi sempet kepikiran masa lalu, tapi kejauhan sampe ke tahun 2012. Ya gini nih kalo flashback suka kebablasan.

Mengingat-yang-udah-lalu kali ini cuma berfokus sama satu hal tapi rangkaiannya panjang, hampir setengah tahun. Daripada dibilang throwback, mungkin lebih enak dibilang 'menolak lupa'. Menolak lupa, supaya nanti kalo udah tua baca ini senyum-senyum sendiri. Supaya jadi pelajaran untuk tetap berkembang.

Semua yang akan diceritakan di sini adalah tentang proses.

Proses menuju tempat yang tercantum di judul ini. Juga proses selama berada di tempat tersebut.

Beijing

Ngapain ke Beijing?
Yaa sebenernya di Beijing cuma numpang turun dan naik pesawat aja. Sisa kisahnya terjadi di Langfang, di daerah pinggiran Beijing. Fokus utamanya lomba, tapi banyak hal yang lebih menarik untuk diceritakan di luar kegiatan lomba itu sendiri. Sebenernya jadwal seharusnya berangkat di bulan Agustus, tapi ternyata diundur oleh panitia ke bulan Desember sehingga terciptalah kisah yang panjang dan berimbas ke mana-mana ini.

Semua berawal dari sekitar 6-7 bulan yang lalu, sedikit lupa tepatnya kapan, kira-kira ketika liburan semester genap kemarin. Berawal dari dilema mau tetap lanjut di tim atau ngga, sampe merasa bosen karena masih harus tetep di Bandung meskipun lagi masa-masa liburan, pernah juga baper sama perkataan temen-temen satu tim, kadang merasa paling ga bisa ngapa-ngapain, galau ga bisa tidur tiap malem gara-gara mikirin mau lanjut berusaha atau berhenti aja di awal. Masa-masa awal ketika liburan itu belum seberapa. Semua bertambah parah ketika mulai masuk kuliah. Mulai ketemu sama amanah-amanah lain, bentrok sana bentrok sini, manajemen mulai berantakan. Belum lagi urusan kuliah, mulai praktikum mulai banyak laporan. Ngurusin yang lain-lain di kelas sampe akhirnya malah keteteran belajar menjelang ujian. Inget banget, pernah melewati hari ketika ngerjain laporan J-1 praktikum dan sebelumnya baru selesai praktikum yang lainnya. Boro-boro nyiapin tes awal praktikum, sarapan sama makan siang aja bablas. Pernah juga melewati masa ketika nangis diem-diem di dalam kelas sambil sok-sokan merhatiin dosen. Berantakan lah pokoknya.

Sampai akhirnya...

Bulan November

Di penghujung semester, mulai chaos lagi nyiapin ujian. Makin intens mikirin lomba karena waktunya makin dekat tapi target masih jauh. Sempet bingung juga mesti ngurusin izin ujian akhir semester yang jadwalnya bentrok dengan waktu lomba. Awalnya mikir gampang, tinggal ngomong ke dosen, bikin surat izin, tentuin tanggal susulan/duluan, beres deh. Nyatanya ngga segampang itu. Nyatanya harus ngelewatin masalah sama temen-temen dulu cuma gara-gara jadwal ujian sampe menimbulkan suasana yang kurang nyaman di grup. Nyatanya harus ribet ke sana ke mari cari-cari dosen. Yang awalnya ga mau ceritain perihal lomba ini ke banyak orang sampai akhirnya terpaksa kasih tau hal ini ke orang lain. Kemudian baru sadar, belum minta restu dari orang tua. Mungkin itu salah satu faktor yang buat hari-hari menjelang lomba jadi kurang lancar. Iya, emang bandel. Baru bilang ke orang tua H-7 keberangkatan. Bahkan sampai hari H beberapa jam sebelum berangkat dari Bandung juga sempet ribut sama orang. Adaaaa aja.

Banyak yang aku sesali. Tentang totalitas. Merasa ga maksimal di akademik maupun di tim, yang menyebabkan kedua-duanya malah ga berjalan dengan baik. Tapi mungkin masa-masa itu yang justru harus aku syukuri, karena setidaknya lewat cerita ini aku pernah tau rasanya sakit akibat minimnya perjuangan.

Ternyata, segala susah itu ga berhenti sampai di Bandung aja. Masalah-masalah tetap ngekor sampai ke Bandara Soekarno-Hatta, sampai ke Kuala Lumpur, sampai ke Beijing, sampai ke Langfang, dan bahkan sampai ke Indonesia lagi. Hari itu tanggal 12 Desember, hari Senin dini hari kami, bertujuh, dapat penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur pagi hari sekitar jam 9, tapi manajer tim harus berangkat lebih awal karena sebelumnya beli tiket yang berbeda. Akhirnya berenam tanpa manajer, dengan kondisi semuanya sama-sama baru pertama kali pergi ke luar negeri. Hingga akhirnya muncul masalah pertama, masalah bagasi. Bagasi over load karena bawaan untuk lomba yang super berat. Mikir keras karena ternyata biaya tambahan per kilonya cukup besar juga, waktu itu kira-kira kalau dihitung bisa mencapai 15 juta. Ya bayangin aja, dengan kondisi ga ada manajer, kita yang ga mungkin punya duit sebanyak itu mesti mikir keras buat cari solusi lain. Akhirnya bongkar barang-barang lagi. Barang-barang yang sekiranya ga perlu ditinggal di penitipan barang bandara (dan diambil hari itu juga sama manajer yang lain). Beruntung waktu itu ada tiga orang, salah satunya aku, yang bawa barang pribadi pake koper kecil (dan kebetulan belum dimasukin ke bagasi) jadi bisa dibawa ke kabin. Menariknya, aku merasa potongan-potongan kejadian di hari sebelumnya ternyata bisa berguna di hari itu. Jadi hari sebelumnya aku dapet pinjeman tiga koper, dengan satu koper besar dan dua koper kecil. Karena koper yang besar ternyata temenku lupa password-nya dan aku ga punya gembok kecil buat penggantinya, akhirnya aku beralih ke koper kecil, meskipun mesti bawa dua koper (harap maklum biasalah cewek). Well, ternyata ada rahasia dibalik bawa koper kecil. Bayangin aja kalo jadinya bawa koper besar, mesti bayar berapa juta coba itu :( Lucu aja kalo diinget lagi, ga ada yang sia-sia ternyata.

Masalah bagasi pun selesai.

Sampai di Kuala Lumpur sekitar jam 1 siang waktu Malaysia. Transit selama hampir 9 jam. Gabut dah cuma makan dan bobo numpang internetan pake wifi bandara. Ternyata, masa tenang cuma terjadi sesaat. Sekitar jam 8 malam, kami check-in, lagi-lagi ada masalah. Kali ini masalah baterai LiPo. Kebetulan saat itu kami check-in di tempat yang sama dan berurutan, juga dalam kondisi masing-masing bawa beberapa baterai. Total baterai yang kita bawa adalah 30 buah. Akhirnya mesti ada perwakilan yang ngurus masalah baterai ini, satu orang bersama manajer kami. Suasana panik lagi karena waktu semakin mepet dengan jam take-off pesawat tapi dua orang itu belum muncul juga. Bingung. Ya karena saat itu ga ada pilihan lain. Harus tetap berangkat meskipun dalam kondisi tanpa baterai dan tanpa manajer. Sampai di dalam pesawat pun mereka tetap belum muncul juga. Sampai akhirnya beberapa menit sebelum take-off, salah seorang muncul. Dan beruntungnya dengan membawa baterai meskipun hanya diperbolehkan membawa beberapa. Lega belum seutuhnya hadir karena manajer kami belum juga muncul. Sayang, ternyata ada sedikit masalah dengan boarding pass nya. Bismillah, kami cuma berharap besok pagi selamat sampai di Beijing dan bisa bertahan dengan baik di sana.

Masalah manajer ketinggalan di Kuala Lumpur ternyata jadi pemicu munculnya masalah-masalah lain di China. Selain masalah suhu yang mendekati 0 derajat Celcius dan masalah bingung mau shalat subuh di mana (waktu nyampe belum tau kalo ternyata ada musholla di sana), salah satu kesulitan lainnya adalah karena susahnya akses internet. Akses wifi ga segampang di Bandara Kuala Lumpur. Sampai di Bandara Beijing bingung, ga ngerti transportasi, ga ngerti harus nanya ke mana. Ketemu tim lain dari Indonesia pun pada akhirnya mereka tetep ga bisa bantu apa-apa juga. Sempet mikir mau naik bus umum, tapi ga paham rutenya, belum lagi dengan kondisi bawa banyak barang. Akhirnya sekitar jam 9 waktu itu kami dapet transportasi dari hasil nanya-nanya ke orang di depan bandara (ya macem di Indonesia aja pasti banyak yang nawarin travel) naik semacam mobil travel. Ternyata eh ternyata, supirnya ga bisa bahasa Inggris guys. Pusing dah. Mana kertas yang dibekelin dari Indonesia isinya alamat dalam latin doang, terus supirnya ga ngerti lah :( Alhamdulillah setelah perjalan sekitar 2 jam bisa sampe juga ke tempat tujuan meskipun om-om supir nanya-nanya terus dan ngomel-ngomel dalam bahasa Mandarin dan kami cuma bisa bengong. Pada akhirnya ditipu-tipu juga karena mesti bayar 680 yuan. Karena penginapan dan tempat lomba berada di tempat yang beda, jadi tujuan pertama kami ke tempat lomba untuk registrasi. Beruntung, meskipun panitianya orang Tiongkok asli tapi seengganya ada beberapa dari mereka yang bisa berbahasa Inggris meskipun patah-patah dan pake bantuan aplikasi sebagai translate bahasa mereka (yang sampe sekarang aku masih penasaran itu aplikasi apa, kan mayan bisa bantu komunikasi).

Iseng motoin bangunan yang ada di venue lomba

Tempat penginapan kami kira-kira di daerah desa. Sepi. Daerah perumahannya juga sepi. Yang punya rumah juga udah cukup berumur, tapi baik banget euy. Hari itu, seengganya kami berhasil melewati satu hari tanpa manajer meskipun harus ngerapel sarapan dan makan siang sore hari edisi masak sendiri apa adanya.

Karena hari itu masih hari pertama, jadi tubuh masih beradaptasi sama suhu di sana. Dingin banget! Beku rasanya.

Tapi dingin malam itu belum seberapa sama dingin keesokan harinya...

-Berlanjut di part 2-



Bekasi, 31 Desember 2016
(menuju 1 Januari 2017)
-Nna-

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 comments:

Poskan Komentar